Aku Dan Kenangan Indahku ( Penyesalan )

Hari demi hari berlalu begitu cepat, tak terasa 16 tahun sudah berlalu kenangan indah yang pernah aku alami bersama sahabat-sahabatku.

Aku sempat tak percaya kenangan itu sudah belasan tahun berlalu, karena aku merasa masa-masa indah itu terasa belum lama aku alami, kenangan indah itu masih ku ingat secara mendetail, jujur rasanya seperti baru kemarin masa-masa itu terjadi, kenangan indah ini tak pernah hilang dari ingatanku, kenangan indah ini begitu nyata dalam pikiranku.

Masih sangat jelas kuingat ketika pertama kali kami memulai persahabatan, di mulai dari rasa penasaranku ingin mengenal lebih dekat seorang siswi kelas 2 sekolah dasar (SD setaraf) Farida namanya, ingin rasanya ku menyapa dan berbicara dengannya namun itu tak bisa kulakukan, aku hanya bisa memandanginya dari jauh, sebenarnya banyak kesempatan untuk memulai perkenalan namun aku tidak bisa menggunakan kesempatan itu, setiap kali aku dekat dengannya jantungku berdeguk begitu kencang dan membuatku tak bisa berkata-kata aku hanya bisa terdiam membisu.

Rasa penasaran ingin mengenalnya semakin hari semakin besar, namun aku masih terdiam tidak ada yang aku lakukan untuk memulai sebuah perkenalan

Ketika rasa putus asa karena belum bisa mengenal Farida aku teringat bahwa dia memiliki saudara laki-laki Rasid namanya dan sontak saat itupun aku langsung menghampiri Rasid dan semenjak itupun kami selalu bermain bersama, setelah beberapa bulan aku berteman dengan Rasid hal yang tak diduga terjadi, Farida menghampiri kami aku kira dia hanya ingin menyapa saudaranya, ternyata dia dan temannya Aini menawarkan diri untuk menjadi sahabat kami, alangkah kaget dan bahagianya hatiku rasanya seperti menemukan sumur di gurun pasir, entah seperti apa harusnya kugambarkan kebahagianku saat itu, yang jelas aku sangat bahagia.

Hari-hari yang kulalui begitu indah kurasakan, dan seiring berjalannya waktu persahabatan kami pun semakin erat dan semakin seru dengan bertambahnya anggota, Arindi, Aisyah, Devi turut menceriakan hari-hari yang kami lalui bersama.

Setahun berlalu begitu cepat kini kami sudah duduk di kelas 3 dan di tahun ini kami bertemu dengan Muhaimin dan selang beberapa bulan kami bertemu dengan Agus dia Salah satu sahabat terbaikku di antara yang terbaik, lengkap sudah kebahagiaan mengiringi hari-hari yang kami lalui bersama.

Di suatu hari saat jam pelajaran berlangsung aku menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong tak sadar air mataku menetes dan baru aku sadari ketika guruku memanggil namaku dan membuyarkan lamunanku dan saat itupun aku baru tersadar bahwa air mataku sudah membasahi meja belajarku, guruku bertanya "kamu kenapa?" aku bingung harus menjawab apa, dan kubilang saja maghku kambuh, tak mungkin aku katakan apa yang aku rasakan bahwa aku baru tahu kalau orang tua yang aku sayangi ternyata beliau adalah kakek/nenekku, lalu dimana dan siap orang tua kandungku?, dan yang membuat ku menangis dikelas bukan karena aku kecewa pada kenyataan bahwa orang yang membesarkan dan menyayangiku bukanlah orangtua kandungku, tetapi aku tak mau berpisah dengan sahabat-sahabatku, tetapi akupun ingin tahu dan bertemu dengan orang tua kandungku, saat jam istirahat tiba sahabat-sahabatku menghampiriku dan membawa obat magh, kulihat betapa pedulinya sahabat-sahabatku padahal susungguhnya aku berbohong, aku menangis bukan karena sakit magh, aku menangis karena aku tak sanggup jika harus berpisah dari sahabat-sahabatku,aku tak ingin meninggalkan kalian semua tetapi nenekku berjanji akan mencari orang tuaku bersamaku, jujur aku sangat ingin bertemu kedua orangtuaku tapi akupun tak ingin melalui seharipun tanpa kalian, aku menunggu saat yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya, disetiap kesempatan aku berusaha untuk mengatakannya namun aku tak pernah bisa, aku takut kalian akan kecewa, dan sampai tiba saatnya aku pergi untuk mencari orang tuaku aku masih belum sempat mengatakannya, "Maafkan aku sahabat-sahabatku" aku tahu aku salah, aku patut untuk di benci, namun jujur aku sangat menyesal, aku berharap masih ada maaf untukku.

Ketika libur setelah kenaikan kelas kakek ipar ku datang dari Katibung Lam-Sel pada malam hari, dan ketika aku bangun di pagi hari pakaianku sudah packing rapih dan aku cepat mandi dan ganti pakaian, aku belum tahu kalau saat itu pula aku akan pergi, sepanjang perjalanan Ciam**, Jawa Barat - Katibung, Lampung Selatan aku hanya terdiam dan tak percaya aku meninggalkan sahabat-sahabatku tanpa kata pamit.

Saat tiba di Katibung aku tidak bertemu dengan Orangtuaku karena ketika kakek ipar mendatangi rumahnya ternyata sudah pindah, aku berusaha mencari tahu keberadaannya, namun tak ada hasil.

Libur panjang sekolah sudah berakhir, aku melanjutkan sekolah di Kec. Katibung Lam-Sel, pelajaran pertama ialah bahasa Lampung (daerah) aku hanya bisa memperhatikan tanpa tahu apa yang sedang di bahas guruku, meskipun aku lahir di lampung namun aku besar di jawa barat, jadi wajar saja kalau aku tak mengerti pelajaran pertamaku.

Hampir setengah tahun pelajaran aku lalui dengan perasaan hampa, aku sangat merindukan sahabat-sahabatku, kala rinduku menggebu aku terima surat dari sahabatku, aku sangat senang meski cuma hanya satu surat yang aku terima dari sahabatku, setidaknya dia tidak melupakanku, tetapi meski pun mereka melupakanku aku terima, karena aku sadar aku salah, surat yang kuterima menceritakan kesaharian di sana, namun aku sedikit tidak terima karena salah satu sahabatku diceritakan dia di ganggu, setelah aku terima surat dari sahabatku, aku memutuskan untuk kembali ke Jawa Barat, namun aku di tentang kakekku karena alasan dia sangat menyanyangiku dan tak ingin aku tinggalkan, aku hanya bisa diam dan menangis di kamar, bukan kasih sayang kakek padaku yang aku tangisi, aku menangis karna rasa rinduku pada sahabat-sahabatku.

Rasa rinduku pada sahabat sudah tak bisa ku bendung lagi, aku mencari cara untuk bisa kembali ke Jawa Barat, sepulang sekolah aku pergi mengaji, selasai mengaji aku isi waktu luangku untuk bekerja mencari uang, tidak ada waktu untukku bermain kali ini, aktifitas keseharianku begitu setelah shalat subuh aku mengaji dilanjut pergi kesekolah setelah sekolah kembali ke pondok untuk mengaji, selasai mengaji, aku pergi kekebun dengan sepeda, di kebun satu persatu pohon kelapa aku panjat, inilah pekerjaanku dan ketika Adzan ashar aku harus bergegas pulang untuk shalat berjama'ah setelah itu disambung lagi mengaji, setiap shalat aku harus berjama'ah di mesjid tempat ku mengaji, karena jika aku tertinggal shalat berjama'ah maka aku akan dapat hukuman dari guru mengajiku setiap tertinggal satu waktu shalat berjama'ah maka hukumannya mengelilingi pesantren 5 putaran, tidak dzikir bersama dihukum 5 putaran, tidak menghafal pelajaran sebelumnya 5 putaran, tidak ngaji 5 putaran, berarti jika aku melanjutkan pekerjaanku dan tidak hadir satu kali waktu shalat maka aku di hukum 20 putaran mengelilingi pesantren (5+5+5+5=20) maka jika satu hari satu malam ( 5 kali waktu shalat ) hukuman yang aku terima adalah 20+20+20+20+20=100 kali putaran mengelilingi pesantren, makanya harus bawa jam kemana-mana, jangan sampai kena hukuman.

Setiap hari aku bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanku dan nenekku, karena aku tak mau membebani kakek iparku, untuk mendapatkan uang Rp. 100.000,- aku harus mendapatkan 2000 kelapa dan itu sudah termasuk memanjat pohon, mengangkut dan mengupasnya, setiap malam setelah selesai mengaji waktu Isya aku harus megupas kelapa, karena di siang hari waktu yang aku miliki terbatas, untuk memanjat pohon kelapa aku lakukan setelah selesai mengaji (dzuhur) sampai Ashar, dan untuk mengangkutnya aku lakukan setelah mengaji waktu Ashar, dan untuk mengupasnya lumayan banyak waktu yang aku miliki yaitu dari Jam 21:00 - 01:00.

Uang yang aku dapat hasil keringatku, kugunakan untuk biaya hidup sehari-hari dan sisanya aku tabungkan, satu setengah tahun sudah berlalu Rinduku terhadap sahabatku makin menjadi, akhirnya aku putuskan untuk meminta izin kepada kakek iparku untuk pulang ke Jawa Barat dengan uang ku sendiri, meski itu akan membuatnya sedih namun aku harus melakukannya, dan kakek hanya bisa pasrah dengan keinginanku untuk kembali ke Jawa Barat dan iapun hanya bisa memelukku sambil menangis, sungguh aku tak tega melihatnya menangis tapi tekad ku sudah bulat, aku pun pergi dengan meninggalkan air mata yang membasahi wajah kakek iparku.

Di perjalanan Lampung Selatan-Jawa Barat aku merasa senang karena rindu yang sudah tak tertahankan akan segera terobati, namun sesampainya di Jawa Barat aku sedikit kecewa karena sahabat-sahabatku sulit untuk ku temui, diantara sahabat-sahabatku hanya satu yang masih peduli padaku, sahabat-sahabatku sudah tak lagi seperti dulu.

Setiap saat aku hanya bisa berharap masa-masa indah yang dulu kami lalui bersama-sama bisa terulang kembali di kemudian hari, tetapi harapan tinggallah harapan, masa-masa indah itu sudah berlalu 16 tahun yang lalu dan mungkin takan pernah terulang kembali.

Aku pasrah dengan harapanku, dan sempat kurelakan kenangan mengisi fikiran ku setiap saat selama 16 tahun lebih, namun rasa penyesalan itu meyertai kenangan yang selalu tayang dalam pikiran membuatku tersadar bahwa kenangan ini membuatku tak peduli dengan kehidupan yang kini kujalani, kini aku berusaha keras untuk melupakan kenangan indah yang pernah aku alami, namun semakin aku berusaha melupakan semakin nyata pula kenangan itu, dan tak pernah ku mengerti kenangan itu terasa menyakitkan saat ku coba untuk melupakannya, jujur ku akui saat malam menjelang tidur airmata sering kali menjadi teman pengantar tidurku.

Teruntuk sahabat-sahabaku yang pernah mewarnai dan membuat hidupku menjadi lebih bermakna, hanya satu pintaku, mohon bukakan pintu maaf untuk kesalahanku yang dulu sempat mengecewakan kalian, kini aku hanya ingin menjalani hari-hariku seperti layaknya manusia yang menjalani hari-hari dengan sewajarnya, mempunyai harapan, mempunyai rencana untuk masa mendatang dan mewarnai hari-hari yang dilaluinya, karena kehidupan yang kini ku jalani terasa hampa, mungkin karena aku lebih merasa hidup dengan kenangan dimasa lalu, aku berpikir halusinasi menguasai fikiranku bahkan aku merasa memiliki 2 hati yang saling berinteraksi dan sering berbeda pendapat, apapun yang kini aku rasakan aku tidak peduli, yang aku inginkan sekarang hanyalah menghapus semua kenangan itu, meski selama ini aku belum pernah bisa tapi aku yakin kelak pada saatnya aku akan terbebas dari semua kenangan yang menutup dunia nyata yang kini aku jalani.



Bagikan


Tinggalkan Komentar

Copyright © 2016  Deumit 545  -  Web Design  -  By D.545