Puisi Islam


SYAIR-SYAIR JIHAD

A pa untuk Jihad di sana ada yang mencari jalan ?
Bagi setiap musibah ada penghibur yang meringankannya, tapi bagi yang menimpa Islam tiada penghiburnya, sampai semua mihrob menangis padahal ia benda mati, Bahkan seluruh mimbar merintih sedangkan ia kayu jati
Seorang Abid yang tunduk kepada Alloh lagi penuh kekhusyu'an, sedang air mata dari kedua pipinya bercucuran, kini masjid-masjid telah menjadi gereja di waktu maghrib, tidak ada di dalamnya selain lonceng dan kayu salib
Itulah musibah melupakan apa yang telah lalu, dan tidak mungkin lupa walau waktu telah lama berlalu
Wahai para penunggang kuda yang kurus kelelahan, seolah ia burung penyambar dalam bidang pacuan
Wahai para penyandang pedang India yang tajam, seolah ia bara api di kegelapan malam yang kelam
Wahai orang-orang bercengkrama di belakang sungai karena gembira di negerinya mereka memiliki kejayaan dan kuasaan, apa kalian telah mengetahui berita tentang Islam sekarang, Sungguh para pengendara telah berjalan dengan berita mereka, sungguh banyak para tokoh meminta bantuan, sedang mereka tawanan dan terbunuh, namun tidak bergeming satupun manusia
Kenapa saling memutus dalam Islam di antara kalian, sedang kalian wahai hamba-hamba Alloh adalah Saudara, apa tidak ada jiwa-jiwa besar yang memiliki cita-cita
Apa terhadap kebaikan ini ada penolong dan pembela
Hai orang-orang yang untuk membela suatu kaum telah terpecah banyak golongan, yang karenanya mereka diserang kekafiran dan kedurjanaan
Kemarin mereka raja-raja di istana mereka, sekarang dalam belenggu kekafiran mereka menjadi sahaya, andai engkau melihat mereka bingung tiada penunjuk jalan, berbagai pakaian kehinaan mereka telah rasakan
Andai engkau lihat tangisan mereka saat diperjual-belikan, tentu engkau terperangah dan diliputi kepedihan
Ya Robb, bayi dan sang ibu telah dipisahkan, sebagaimana ruh telah dijauhkan dari badan, sang puteri yang tak pernah dilihat matahari dengan terbuka, seolah ia berlian dan batu permata, kini digiring si bule sebagai budak seraya dihinakan, matanya menangis dan hati penuh keheranan
Untuk seperti ini hati luluh karena kesedihan, andai di hati ini ada Islam dan keimanan, apa untuk Jihad disana ada yang mencari jalan, sungguh surga peristirahatan telah penuh dengan hiasan bidadari dan para pelayan telah menengok dari kamar-kamar
Mendapatkan kebaikan ini demi Alloh mereka para pendekar kemudian sholawat kepada Al-Mukhtar dari Alloh semoga di limpahkan sepanjang angin berhembus dan berguncang dahan pepohonan, Hantarkan aku kesanan
Gejolak yang membuncah memenuhi dada ini, bersama asa yang rindu mendalam, dari hamba yang berlumur dosa dan kealpaan, berharap dapat bersua dengan-Mu.
Wahai Rabbul'alamiin...
Dengan taubat ku berharap, kuatkan jiwa ini mendatanginya
Kokohkan langkah kaki ini menempuhnya
Azzamkan niat ini dalam mencapainya
Ikhlaskan hati ini menjalaninya
Aku rindu, aku rindu, aku rindu...
Rindu berjumpa dengan-Mu dalam Syahadah
Rindu bersua dengan-Mu dalam Iman
Rindu bersama-Mu dalam Tauhid
Rindu indahnya hidup dalam naungan ridha-Mu
Syari'at Islam, Daulah Islam, Khilafah Islam
Duhai Alloh yang tiada sekutu bagi-Mu, hantarkanlah kerinduanku ini, mudahkanlah, lapangkanlah, tuk raih cita-cita Kemulian hidup dalam Islam, atau ke Syahidan dalam Perjuangan



MUJAHIDAH DARI TANAH JIHAD

Aku Wanita Mujahidah sejati, yang tercipta dari tulang rusuk lelaki yang berjihad, bilakah kan datang seorang peminang menghampiriku mengajak tuk berjihad, kelak ku akan pergi mendampinginya di bumi Jihad.
Aku selalu siap dengan semua syarat yang diajukannya, cinta Allah, Rasul dan Jihad Fisabilillah
Aku rela berkelana mengembara dengannya lindungi Dienullah, Ikhlas menyebarkan dakwah ke penjuru bumi Allah
Tak mungkin ku pilih dirimu, bila dunia lebih kau damba, terlupa kampung halaman, sanak saudara bahkan harta yang terpendam, hidup terasing apa adanya, asalkan di akhirat bahagia
Bila aku setuju dan kaupun tidak meragukanku, bulat tekadku untuk menemanimu
Aku Wanita mujahidah pilihan, yang mengalir di nadiku darah lelaki yang berjihad
Bilakah kan datang menghampiriku seorang peminang yang penuh ketawadhu'an, kelak bersamanya kuarungi bahtera lautan jihad.
Andai tak siap bisa kau pilih, agar kelak batin, jiwa dan ragamu tak terusik, terbebani dengan segala kemanjaanku, kegundahanku, kegelisahanku, terlebih keluh kesahku, tak mungkin aku memilihmu, bila yang fana lebih kau cinta
Lupa akan kemilau dunia dan remangnya lampu kota, lezatnya makanan dan lajunya makar durjana, sebab meninggalkan dakwah karena lebih mencintaimu dan menanggalkan pakaian taqwaku karena laranganmu
Meniti jalan panjang di medan jihad, yang ada hanya darah dan airmata tertumpah, serta debu yang beterbangan, keringat luka dan kesyahidan pun terulang
Jika masih ada ragu tertancap dihatimu, teguhkan Azzamku tuk lupa akan dirimu
Aku wanita dari bumi Jihad, dengan sekeranjang semangat berangkat ke padang jihad, persiapkan bekal diri menanti pendamping hati, pelepas lelah serta kejenuhan, tepiskan semua mimpi yang tak berarti
Adakah yang siap mendamaikan Hati ?, karena tak mungkin kulanjutkan perjalanan ini sendiri, tanpa peneguh langkah kaki, pendamping perjuangan, yang melepasku dengan selaksa do'a, meraih syahid tujuan utama
Robbi.. terdengar panggilanMu tuk meniti jalan ridhoMu, kuharapkan penolong dari hambaMu menemani perjalanan ini.



PRINCE OF JIHAD

Aku, apa gerangan yang dilakukan musuh pada diriku
Aku, sungguh surgaku ada di hatiku, dan taman-taman yang indah ada di dadaku, ia selalu terus ada tetap bersamaku, dan selalu ikut kemana saja kepergianku, tak seorangpun bisa merampasnya dariku
Aku, andai mereka sampai membunuhku, maka itulah waktu khalwat bersama Tuhanku
Dan jika mereka berani membunuhku, sungguh itulah bentuk kesyahidan bagiku
Dan merekapun akan segera menyusul kepergianku
Dan jikalau mereka dari negeri ini mengugusurku, maka ku anggap itulah bentuk wisataku
Aku adalah aku yang mengerti benar jalan hidupku
Aku takkan pernah peduli dengan orang yang mencelaku, selagi Allah tetap ridha dan mencintaiku
Aku tahu bahwa thaghut tidak menyukaiku, tapi itu tidak masalah selama aku ada di jalan Tuhanku
Dan mana mungkin syaitan menyukai ajaran Nabiku, Tauhid akan kujunjung di atas kepalaku, dan Pancasila syirik kan ku injak dengan kakiku, hukum ilahi ku angkat tinggi dengan tanganku, dan undang-undang kafir kan ku tebas dengan pedangku
Enyahlah hai hamba thaghut, kalian adalah musuh abadiku, dan aku adalah musuhmu sepanjang hidupku
Bila kalian ragu dengan ajaran tauhidku, dan merasa benar dengan ajaran musuh Tuhanku Mari kita mati bersama ! kamu dan aku.


YA MUJAHID

Y a Mujahid...
Sungguh apabila maut berjumpa dengan engkau akan lari pucat pasi dan mencari jalan untuk kembali sambil melarikan diri, kematian takut dengan engkau ya mujahid
Engkau selalu mencintainya dimanapun engkau berada, tiadalah engkau berlambat lambat darinya ataupun maju mendahuluimu, maka engkau dapati celaan dalam mencintainya amatlah nikmat terasa senang mengingatnya, maka biarkan celaan mencela engkau
Ya Mujahid...
Engkau tegak berdiri dan tak ada keraguan dalam kematian bagi orang yang tegak berdiri, seolah olah engkau berada dipelupuk sang maut yang tengah tertidur, lewat padamu para perwira yang tengah luka dan cedera, sementara wajahmu tetap putih berseri, mulutmu tetap tersungging senyum
Ya Mujahid
Adakah raja itu memiliki daging di atas meja hidangan, apabila pedang-pedangmu masih kehausan dan burung burung masih kelaparan, sampai aku kembali pena penaku mengatakan padaku kemulian itu milik pedang bukan milik pena
Ya Mujahid
Andai aku masih diberi umur, akan kujadikan perang sebagai ibu, tombak sebagai saudara dan pedang sebagai bapak
Dengan rambut kusut masai terseyum meyongsong kematian, hingga seolah-olah ia mempunyai keinginan dalam kematian nya, berjalan cepat, cepat, jangan sampai terlambat, hingga hampir hampir ringkikan kuda melemparku dari pelananya lantaran gembira dan melonjak-lonjak menyongsong perang
Ya Mujahid
Semoga Allah meridhaimu, semoga Allah merahmatimu, hingga dalam seyummu yang indah engkau ingin mengatakan pada kami, aku sudah menepati janjiku aku sudah menjual diriku, maka kapan giliranmu wahai saudara, maka kapan giliranmu wahai saudara ?.




Bagikan


Tinggalkan Komentar

Copyright © 2016  Deumit 545  -  Web Design  -  By D.545