Puisi Patah Hati


SEBERKAS KENANGAN MANIS

H ari demi hari terus berlalu melewati siang dan malam, hingga tak terasa aroma nostalgia kembali bersemi dan mewangi mengharumi bulan Agustus ini
Ya, bulan yang telah banyak menyimpan angan dan kenangan bersamamu, Ingatkah kamu wahai yang kurindu.
Ketika pertama kali kita bertemu, berjanji dan bersatu, seakan dunia ini hanya milik kita berdua, seakan alam pun berdendang ria, memandang kita ceria, bahkan aku sempat berfikir bahwa aku terlahir ke dunia ini, hanya untuk membuatmu bahagi, ya, membuatmu bahagia, sehingga apapun yang kamu inginkan, aku selalu berusaha keras agar dapat memberikannya, meski terkadang harus ku korbankan segenap jiwa ragaku, meski aku harus menderita, kecewa, dan luka.
Ya, sekalipun langit mendung, gelap malam untukku
Wahai belahan jiwaku, masih ingatkah kamu?, ketika kita bernyanyi bersama di sore itu, kau tersenyum mesra padaku
Mungkin itu senyum pertama dan senyum termanis yang pernah kulihat, seakan hasratku merekah dan hatiku tergugah untuk membelaimu dibawah naungan gemerlapnya bintang-gemintang, dan indahnya sinar bulan
Ingatkah kamu?, ketika kita makan malam bersama di malam itu, kau menatapku dengan sorot matamu yang berbinar, sepertinya bias bening bola matamu mampu merubah gelap gulitanya malam menjadi fajar yang cerah
Dan disitu pula kuberikan serangkaian bunga-bunga indah sebagai tanda kasih sayangku padamu, ingatkah kamu?, wahai Sariku
Itu hanya seberkas kenangan manisku yang masih terkemas rapi dalam setiap ingatanku, meski terkadang aku harus sedih, jerih dan letih mengikuti liku hidupku, tapi seberkas kenangan manis kan terkenang selalu
Sariku, semua ini hanyalah puisi penghibur kalbu yang mungkin dapat melebur keruhnya suasana di batinku, yang kini tengah pilu meratapi kisah cintaku bersamamu.
Entah apa yang bakal terjadi lagi, yang tersirat dalam garis tanganku, aku hanya bisa berdo'a, semoga Tuhan mendengar keluhan dan harapanku.
Wahai Sariku, semua ini hanyalah kata-kata, tapi ini lebih indah dari bintang-bintang di angkasa
Ya, ketika seberkas kenangan manisku teringat kembali olehku, di bulan agustus ini, yang mungkin akan menjadi kelabu



Pesona Bunga yang Sirna

T angisan dari harapan dan goresan dari ingatan kini menjelma kembali di lubuk hati.
Ya.. ketika pertama kali aku mengagumi kepolosan dan kemurnian dari setangkai bunga yang wangi.
Dua musim kulalui bersamanya dalam ikatan janji saling menyayangi
Siang dan malam pun kunikmati seiring dengan warna-warni bumi
Wanginya yang khas senantiasa hiasi hari-hariku menjadi jauh lebih berarti
Oh.. betapa bahagianya hati ini
Namun, seiring dengan waktu berlalu, rasa sayangku pada bunga itu perlahan-lahan memudar, segala corak dan warna yang dulu sempat kukagumi pun seketika sirna, karena dia, ya, karena dia telah mengkhianati janji dan kesetiaan yang selama ini kukemas rapi dalam hati
Sunggguh aku tak mengerti, betapa mudahnya ia melepas diri setelah sekian lama aku merawat dan menjaganya sepenuh hati.
Aku tak mampu menahan pedihnya luka ini, hingga akhirnya aku pasrah diri, dan berjanji untuk meninggalkannya, karena tak mungkin, tak mungkin aku menghirup kembali aroma bunga yang sudah tidak wangi lagi
Tak mungkin aku bisa menjamah lagi tangkai bunga yang sudah dipenuhi duri
Mugkin suatu saat nanti dia akan mengerti, dia akan menyesali atas durinya yang telah menyakiti, itupun jika ia masih memiliki hati nurani
Dan andai saja nanti aku menemukan kembali bunga yang wangi, kuharap corak dan warnanya jauh lebih berarti dan wanginya kan slalu abadi dalam hati.



Sembilu Menusuk Qalbu

Aku disini terdiam kaku, tersentak tanpa kata, seakan dunia gelap oleh kabut malam, cahaya matahari pun hilang ditelannya.
Ku mencintai bukan membenci, namun ketika ku coba tuk memahami arti CINTA sebenarnya, kenapa hanya lirih luka yang ku dapat.
Kini kucoba untuk merajut kembali kapas putih itu, ketika rajutan itu akan utuh kau hancurkan dengan sebuah bambu yang teramat tajam
Kau cabik-cabik seolah tak punya perasaan, aku hanya bisa membisu melihatnya, seakan pasrah dengan semua yang kulihat.
Mungkin ini karna kumencintai, tapi bukan aku yang dicintai
Semoga kau bahagia dengan lukaku ini
Semoga kau tenang dengan penderitaan hatiku ini, sesungguhnya Tuhan melihat, Mendengar dan merasakan apa yang ku rasa dia tak diam, tapi dia selalu mendengar do'a ku



Bagikan


Tinggalkan Komentar

Copyright © 2016  Deumit 545  -  Web Design  -  By D.545