Puisi Perjuangan


SATU MIMPI SATU BARISAN

D i lembang ada kawan Sofyan, jualan bakso kini karena dipecat perusahaan, karena mogok karena ingin perbaikan, karena upah, ya karena upah.
Di ciroyom ada kawan Sodiyah, si lakinya terbaring di amben kontrakan buruh pabrik teh, terbaring pucet dihantam tipes, ya dihantam tipes
Juga ada Neni kawan Bariah, bekas buruh pabrik kaos kaki kini jadi buruh di perusahaan lagi, dia dipecat, ya dia dipecat, kesalahannya : karena menolak diperlakukan sewenang-wenang
Di cimahi ada kawan Udin buruh sablon, kemarin kami datang dia bilang umpama dironsen pasti nampak isi dadaku ini pasti rusak, karena amoniak ya amoniak.
Di cigugur ada kawan Siti, punya cerita harus lembur sampai pagi, pulang lunglai lemes ngantuk letih membungkuk 24 jam, ya 24 jam.
Di majalaya ada kawan Eman, buruh pabrik handuk dulu, kini luntang-lantung cari kerjaan bini hamil tiga bulan, kesalahan : karena tak sudi terus diperah seperti sapi.
Di mana-mana ada Sofyan ada Sodiyah ada Bariyah, tak bisa dibungkam kodim, tak bisa dibungkam popor senapan
Di mana-mana ada Neni ada Udin ada Siti, di mana-mana ada Eman, di bandung, solo, jakarta, tangerang, tak bisa dibungkam kodim, tak bisa dibungkam popor senapan.
Satu mimpi, satu barisan



DIBALIK SERUAN PAHLAWAN

K abut dalam kenangan pergolakan bumi pertiwi
Mendung pertandakah hujan deras, membanjiri asa yang haus kemerdekaan
Dia dan semua yang ada menunggu keputusan sakral
Serbu,, Merdeka atau mati,, Allahu Akbar...
Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa
dalam serbuan bambu runcing menyatu
Kau teruskan bunyi-bunyi ayat suci
Kau teriakan semangat juang demi negeri
Kau relakan terkasih menahan terpaan belati untuk ibu pertiwi.
Kini kau lihat, merah hitam tanah kelahiranmu, pertumpahan darah para penjajah keji
Gemelutmu tak kunjung sia, lindungan-Nya selalu dihatimu untuk kemerdekaan Indonesia abadi..



PEMUDA UNTUK PERUBAHAN

Indonesia Menangis, bahkan tercabik dengan hebatnya
Penguasanya korupsi, tak peduli rakyatnya mengemis
Kesejahteraan tinggallah angan, keadilan hanyalah khayal, kemerdekaan telah terjajah, yang tersisah hanya kebodohan
Indonesiaku, Indonesia kalian, jangan hanya tinggal diam kawan, mari bersatu ambil peranan sebagai pemuda untuk perubahan


PERJUANGAN TAK PASTI

Teriknya mentari menyentuh Qalbu..
Tak terasa angin merambah rasa, hanya terasa peluh merambah jiwa.
Ku coba melangkah ke sana, tak jua ku temukan suatu hal
Ku langkahkan kembali kakiku, tapi ku masih tak temukan sesuatu itu
Saat ku berhenti tuk bersandar, ku memohon dan berserah, apa aku di beri sebuah peluang tuk bisa hidup nyaman
Oh tuhan...
Perjuangan ini sungguh meresahkan
Perjuangan ini sungguh membingungkan
Perjuangan ini tak menemukan jalan
Kaki tak kuat untuk melangkah
Jiwa tak kuat untuk bangun
Hati tak sanggup untuk merasa
Otak tak bisa untuk berfikir
Hidupku...
Kenapa kau ditakdirkan seperti ini, hanya berharap dari perjuangan yang tak pasti
Hidup ini terasa sangat membingungkan



PENGORBANAN

Mengucur deras keringat, membasahi tubuh yang terikat, membawa angan, jauh entah kemana
Bagaikan pungguk merindukan rembulan, jiwa ini terpuruk dalam kesedihan
Pagi yang menjadi malam, dan Bulan yang menjadi Tahun
Sekian lama telah menanti, dirinya tak jua terlepas
Andai diriku sang Ksatria, aku sudah pasti menyelamatkannya
Namun semua itu hanya mimpi, dirinyalah yang harus berusaha
Untuk membawa dirinya pergi dari kegelapan abadi.


PAHLAWANKU

Oh... Pahlawan ku
Bagaimana ku bisa membalas jasa-jasa mu yang telah kau berikan untuk bumi pertiwi
Haruskah aku turun ke medan perang
Haruskah aku mandi berlumurkan darah
Haruskah aku tertusuk pisau belati penjajah
Aku tak tahu cara untuk membalas jasa mu, engkau rela mengorbankan nyawamu demi suatu kemerdekaan yang mungkin tak bisa kau raih dengan tangan mu sendiri
Oh... pahlawan ku, engkau lah Bunga Bangsa.


INDONESIA, AKU MASIH TETAP MENCINTAIMU

Indonesia, aku masih tetap mencintaimu
Sungguh, cintaku suci dan murni padamu
Ingin selalu kukecup keningmu, seperti kukecup kening istriku
Tapi mengapa air matamu masih menetes-netes juga, dan rintihmu pilu kurasa
Burung-burung bernyanyi menghiburmu, Pesawat-pesawat menderu membangkitkanmu
Tapi mengapa masih juga terdengar tangismu, apakah kau tangisi hutan-hutan yang tiap hari digunduli pemegang hapeha?.
Apakah kau tangisi hutang-hutang negara yang terus menumpuk jadi beban bangsa?.
Apakah kau tangisi nasib rakyatmu yang makin tergencet kenaikan harga?.
Atau kau sekadar merasa kecewa karena rupiahmu terus dilindas dollar amerika dan IMF rentenir kelas dunia itu terus menjerat dan mengendalikan langkahmu?.
Ah, apapun yang terjadi padamu Indonesia, aku tetap mencintaimu
Ingin selalu kucium jemari tanganmu, seperti kucium jemari tangan ibuku
Sungguh, aku tetap mencintaimu
Karena itulah, ketika orang-orang ramai-ramai membeli dollar Amerika, tetap kubiarkan tabunganku dalam rupiah
Sebab sudah tak tersisa lagi saldonya!.


INDONESIAKU KINI

Negaraku cinta Indonesia
Nasibmu kini menderita
Rakyatmu kini sengsara
Pemimpin yang tidak bijaksana apakah pantas memimpin negara yang aman sentosa
Oh Indonesia tumpah darahku
Apakah belum terbit, seorang pemimpin yang kita cari
Apakah rasa kepemimpinan itu masih disimpan di nurani, tertinggal di lubuk hati, tak dibawa sekarang ini
Rakyat membutuhkanmu, seorang Khalifatur Rasyidin yang setia dalam memimpin, menyantuni fakir miskin, mengasihani anak yatim
Kami mengharapkan pemimpin yang soleh dan solehah, pengganti tugas Rasulullah sebagai seorang pemimpin ummah, Yang bersifat Siddiq dan Fatanah
Andaikan kutemukan seorang pemimpin dunia, seorang pemimpin agama, seorang pemimpin Indonesia
Hanya Allah Yang Mengetahuinya.


NEGERI IMPIAN

Rembulan terbit dari barat, seperti wajahmu yang bulat seakan menyiratkan yang tak tersurat
Dibalik kharisma kemilaunya cahaya yang semburat, menghipnotis hati biar terpikat
Lemah gemulai gerakanmu, iringi lagu rindu yang mendayu sendu, tatap matamu menghiba pelepas rindu
Tujuh purnama telah kau tunggu
Tujuh negeri telah kau lewati, masih belum kau temui apa yang kau cari
Diantara bimbangnya hati, apa sebenarnya yang kau cari
Tanpa jawab yang kau dapati, bertambah galaulah hati
Melihat nasib ini negeri, anak kurang gizi, bergelimpangan bayi mati, ibu-ibu tak punya asi
Menggilanya aborsi, merajalelanya mutilasi, ditingkahi bobroknya birokrasi ini negeri.



Bagikan


Tinggalkan Komentar

Copyright © 2016  Deumit 545  -  Web Design  -  By D.545